Pengaruh Perubahan Iklim Global terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir di Indonesia (Kelas 7 - Semester Genap)

Pengaruh Perubahan Iklim Global terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir di Indonesia (Kelas 7 - Semester Genap)
SEMESTER GENAP

Pengaruh Perubahan Iklim Global terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir di Indonesia

Kelas 7 | Fase D - Bumi dan Alam Semesta

👤 Oleh: Catur Pamungkas, S.Pd., Gr. | 📝 Asesmen: Digital Mapping
RENCANA PEMBELAJARAN MENDALAM (RPM)
Identitas Kelas: 7
Semester: Genap
Tema: Bumi dan Alam Semesta
Topik: Pengaruh Perubahan Iklim Global terhadap Kehidupan Masyarakat Pesisir di Indonesia
Landasan Hukum: BSKAP 032/2024
8 Dimensi Profil Pelajar Pancasila
  1. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menyadari tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai amanah Tuhan.
  2. Berkebinekaan Global: Memahami keragaman tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir dari berbagai daerah di Indonesia akibat perubahan iklim.
  3. Gotong Royong: Berkolaborasi dalam mencari solusi dan mengimplementasikan strategi adaptasi serta mitigasi.
  4. Mandiri: Mampu mencari informasi dan belajar secara mandiri untuk memahami isu perubahan iklim.
  5. Bernalar Kritis: Menganalisis penyebab, dampak, dan solusi perubahan iklim secara mendalam.
  6. Kreatif: Merumuskan strategi adaptasi yang inovatif dan solusi yang unik.
  7. Berwawasan Lingkungan: Memiliki kepedulian mendalam terhadap isu lingkungan, khususnya ekosistem pesisir.
  8. Inovatif: Mampu menghasilkan ide-ide baru dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Capai Pembelajaran (CP) & Tujuan Pembelajaran (TP) CP Reference: CP BSKAP 032/2024 - Elemen Pemahaman Konsep: Peserta didik mampu mengidentifikasi dan menjelaskan fenomena alam dan sosial di lingkungan sekitar serta dampaknya bagi kehidupan. Elemen Keterampilan Proses: Peserta didik mampu menganalisis informasi dari berbagai sumber terkait fenomena alam dan sosial serta menyajikan hasil analisis.

Tujuan Pembelajaran (TP): Peserta didik mampu menganalisis dampak perubahan iklim global terhadap ekosistem pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir di Indonesia, serta merumuskan solusi adaptasi yang inovatif.
Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)
  1. Mengidentifikasi penyebab perubahan iklim global.
  2. Menjelaskan fenomena perubahan iklim yang terjadi di wilayah pesisir Indonesia (misalnya kenaikan permukaan air laut, abrasi, intrusi air laut).
  3. Menganalisis dampak perubahan iklim terhadap ekosistem pesisir (mangrove, terumbu karang, dll.).
  4. Menganalisis dampak perubahan iklim terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir (nelayan, petani garam, pariwisata).
  5. Merumuskan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang relevan bagi masyarakat pesisir.
Desain Media Pembelajaran Judul Media: Peta Interaktif Dampak Perubahan Iklim Pesisir Indonesia
Jenis Media: Digital Mapping / Peta Interaktif Berbasis Web
Deskripsi: Media ini akan menampilkan peta Indonesia yang diperkaya dengan lapisan informasi mengenai wilayah pesisir. Peserta didik dapat mengklik berbagai area pesisir untuk melihat data spesifik mengenai:
  • Fenomena perubahan iklim yang terjadi (misalnya, tingkat kenaikan permukaan air laut, area rawan abrasi).
  • Dampak terhadap ekosistem (misalnya, penurunan tutupan terumbu karang, hilangnya area mangrove).
  • Dampak sosial ekonomi (misalnya, mata pencaharian nelayan terganggu, lahan pertanian garam terendam).
  • Contoh-contoh strategi adaptasi yang telah atau dapat diterapkan.
Media ini akan dilengkapi dengan infografis, video pendek, dan tautan ke sumber-sumber riset terpercaya.
Langkah Pembelajaran: Mindful-Joyful-Meaningful
  1. Mindful (Pembukaan, 15 menit):
    Guru memulai dengan video singkat yang menyentuh tentang keindahan pesisir Indonesia dan ancaman yang dihadapinya akibat perubahan iklim. Dilanjutkan dengan sesi refleksi singkat: "Apa yang terlintas di benak Anda saat melihat gambar-gambar ini? Apa perasaan Anda?" Guru membimbing siswa untuk terhubung secara emosional dengan topik ini.
  2. Joyful (Eksplorasi & Kolaborasi, 60 menit):
    Peserta didik dibagi dalam kelompok dan diajak untuk menjelajahi "Peta Interaktif Dampak Perubahan Iklim Pesisir Indonesia". Mereka akan berdiskusi dalam kelompok untuk mengidentifikasi fenomena, dampak, dan potensi solusi di berbagai wilayah pesisir yang mereka pilih. Guru memfasilitasi, mendorong rasa ingin tahu dan kolaborasi antar siswa. Permainan kuis singkat berbasis peta dapat disisipkan untuk menambah keseruan.
  3. Meaningful (Analisis & Sintesis, 45 menit):
    Setiap kelompok mempresentasikan temuan utama mereka, fokus pada analisis dampak dan perumusan strategi adaptasi yang inovatif. Diskusi kelas dipandu untuk menarik benang merah dari berbagai temuan, menghubungkannya dengan konsep perubahan iklim global dan CP BSKAP 032/2024. Peserta didik diajak merenungkan makna dari apa yang telah mereka pelajari bagi masa depan mereka dan masyarakat Indonesia.
  4. Aksi (Penutup, 15 menit):
    Guru mengajak siswa untuk menuliskan satu komitmen pribadi atau kelompok untuk berkontribusi dalam upaya adaptasi/mitigasi perubahan iklim di lingkungan mereka, sekecil apapun. Penutup diakhiri dengan afirmasi positif dan apresiasi atas partisipasi aktif siswa.
Strategi Asesmen Penilaian ini bertujuan untuk mengukur kedalaman pemahaman peserta didik mengenai dampak kompleks perubahan iklim di wilayah pesisir dan kemampuan mereka dalam berpikir kritis untuk menemukan solusi. Asesmen dinamis memungkinkan guru untuk memantau perkembangan pemahaman siswa secara berkelanjutan dan memberikan umpan balik yang tepat.
Instrumen Asesmen Digital Mapping (Presentasi Kelompok & Diskusi Kelas):
Kelompok diminta untuk menggunakan fitur "digital mapping" (misalnya, menggunakan fitur anotasi atau pembuatan layer pada peta interaktif yang disediakan) untuk menandai area pesisir yang mereka analisis, menjelaskan fenomena, dampak, dan usulan strategi adaptasi. Penilaian dilakukan berdasarkan:
  • Akurasi identifikasi fenomena dan dampaknya.
  • Kedalaman analisis hubungan sebab-akibat.
  • Kreativitas dan relevansi strategi adaptasi yang diusulkan.
  • Kemampuan komunikasi dan kolaborasi dalam kelompok.
Contoh Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills)
  1. Soal: Sebuah desa nelayan di pesisir utara Jawa mengalami peningkatan frekuensi banjir rob dan intrusi air laut yang semakin parah. Mata pencaharian utama mereka adalah menangkap ikan di laut dan menanam garam. Berdasarkan data dari peta interaktif, daerah ini juga menunjukkan penurunan luas hutan mangrove. Analisislah secara mendalam, bagaimana ketiga fenomena ini (banjir rob, intrusi air laut, dan penurunan mangrove) saling terkait dan menciptakan ancaman ganda terhadap keberlanjutan kehidupan masyarakat desa tersebut. Rumuskanlah setidaknya dua strategi adaptasi inovatif yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat desa, dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya yang mungkin mereka miliki.
    Analisis Opsi:
    • Opsi A (Analisis Dangkal): Hanya menjelaskan bahwa banjir rob membuat rumah terendam dan air asin merusak tanaman garam. (Menunjukkan pemahaman parsial, kurang mendalam dalam kaitan antar fenomena dan solusi).
    • Opsi B (Analisis Kausal Sederhana): Menjelaskan bahwa kenaikan air laut menyebabkan banjir rob dan intrusi, yang merusak mata pencaharian. Mangrove hanya disebut sebagai pelindung. (Belum sepenuhnya mengaitkan penurunan mangrove dengan kerentanan yang lebih besar, serta kurang mendalam dalam merumuskan solusi inovatif).
    • Opsi C (Analisis Mendalam & Solusi Inovatif): Mampu menjelaskan bagaimana penurunan mangrove mengurangi kemampuan alami pesisir menahan gelombang dan air laut, memperparah banjir rob dan intrusi. Menjelaskan dampak ekonomi ganda (ikan berkurang karena habitat rusak, garam tidak bisa dipanen karena salinitas tidak terkontrol atau lahan terendam). Merumuskan solusi seperti budidaya ikan/udang di tambak yang ditinggikan, pengembangan pariwisata berbasis ekowisata mangrove yang dikelola komunitas, atau diversifikasi mata pencaharian ke sektor jasa yang mendukung pariwisata. (Menunjukkan pemahaman komprehensif, analisis sebab-akibat yang kuat, dan kemampuan merumuskan solusi adaptasi yang relevan dan kreatif).
    • Opsi D (Solusi Umum Tanpa Analisis Kuat): Menyarankan untuk membangun tanggul laut atau relokasi, tanpa menjelaskan secara detail keterkaitan fenomena atau pertimbangan inovatif dalam solusi. (Kurang fokus pada analisis mendalam terhadap fenomena yang diberikan dan kurang menggali aspek inovatif dalam solusi adaptasi).
  2. Soal: Perubahan iklim global telah menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di Indonesia. Fenomena ini berdampak signifikan pada ekosistem terumbu karang, yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati laut dan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir melalui pariwisata bahari dan perikanan. Jelaskan bagaimana mekanisme "pemutihan karang" (coral bleaching) terjadi akibat peningkatan suhu laut, dan analisis dampak jangka panjangnya terhadap ekosistem pesisir serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang bergantung padanya. Bagaimana strategi adaptasi yang berfokus pada restorasi terumbu karang dapat diintegrasikan dengan pemberdayaan masyarakat lokal?
    Analisis Opsi:
    • Opsi A (Deskripsi Sederhana): Menjelaskan bahwa air laut panas membuat karang mati. (Kurang mendalam pada mekanisme ilmiah "pemutihan karang" dan dampaknya yang kompleks).
    • Opsi B (Analisis Dampak Parsial): Menjelaskan pemutihan karang dan dampaknya pada ikan yang berkurang, sehingga nelayan kesulitan. (Belum sepenuhnya mengaitkan dengan pariwisata dan peran terumbu karang sebagai ekosistem pendukung).
    • Opsi C (Analisis Mekanisme, Dampak Komprehensif, & Integrasi Solusi): Menjelaskan bahwa peningkatan suhu menyebabkan zooxanthellae (alga simbion) keluar dari jaringan karang, menyebabkan karang kehilangan warna dan sumber energinya. Menganalisis dampak penurunan keanekaragaman hayati laut, kerugian ekonomi dari sektor perikanan tangkap dan pariwisata (menurunnya daya tarik wisata), serta potensi masalah sosial akibat hilangnya mata pencaharian. Merumuskan strategi restorasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam penanaman karang, pemantauan, dan pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab. (Menunjukkan pemahaman mendalam tentang proses ilmiah, analisis dampak yang holistik, dan kemampuan mengintegrasikan solusi teknis dengan pemberdayaan sosial).
    • Opsi D (Fokus pada Solusi Tanpa Analisis Kuat): Langsung menyarankan upaya penanaman karang tanpa menjelaskan secara rinci mekanisme pemutihan dan dampaknya, serta kurang mendalami aspek pemberdayaan masyarakat. (Kurang berakar pada analisis ilmiah dan dampak yang mendalam).
  3. Soal: Di beberapa daerah pesisir Indonesia, terjadi intrusi air laut ke dalam akuifer air tawar. Fenomena ini berdampak langsung pada ketersediaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga dan irigasi lahan pertanian, serta mengancam keberlanjutan usaha petani garam. Mengacu pada prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan dan adaptasi perubahan iklim, jelaskan strategi pengelolaan air yang inovatif dan partisipatif yang dapat diterapkan oleh masyarakat pesisir untuk menghadapi tantangan intrusi air laut, serta bagaimana strategi ini dapat memperkuat ketahanan sosial ekonomi mereka.
    Analisis Opsi:
    • Opsi A (Solusi Teknis Sederhana): Menyarankan untuk menggali sumur yang lebih dalam atau membangun desalinasi air laut. (Kurang mempertimbangkan aspek partisipatif, keberlanjutan, dan potensi dampak sosial-ekonomi yang lebih luas, serta inovasi).
    • Opsi B (Analisis Dampak Tanpa Solusi Inovatif): Hanya menjelaskan bahwa air asin merusak tanaman dan tidak baik untuk diminum. (Kurang fokus pada perumusan strategi pengelolaan air yang inovatif dan partisipatif).
    • Opsi C (Strategi Inovatif, Partisipatif, & Penguatan Sosial Ekonomi): Menjelaskan strategi seperti pembangunan embung air hujan, pemanenan air hujan skala rumah tangga dan komunal, konservasi lahan basah pesisir untuk menjaga kualitas air, serta diversifikasi usaha petani garam (misalnya, produksi garam beryodium kualitas premium atau produk turunan garam). Menekankan pentingnya pembentukan kelompok pengelola air berbasis masyarakat, edukasi tentang konservasi air, dan kemitraan dengan pemerintah atau LSM untuk teknologi yang lebih canggih namun ramah lingkungan. Menjelaskan bagaimana pengelolaan air yang baik dan diversifikasi usaha dapat meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. (Menunjukkan pemahaman mendalam tentang isu, kemampuan merumuskan strategi yang holistik, inovatif, partisipatif, dan berorientasi pada penguatan sosial ekonomi).
    • Opsi D (Solusi Umum Tanpa Rincian Inovasi): Menyarankan penghematan air tanpa memberikan contoh konkret atau strategi inovatif, serta kurang mendalami aspek partisipatif dan penguatan sosial ekonomi. (Kurang spesifik dan kurang menggali aspek inovatif serta partisipatif).

Kolom Komentar

Silakan login dengan Akun Google untuk berkomentar. Komentar akan dimoderasi sebelum ditampilkan.

Komentar

Posting Komentar