Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM)
| Identitas | Deskripsi |
|---|---|
| Topik | Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya Lokal di Era Digital |
| Kelas | 8 |
| Semester | Genap |
| Tema | Kearifan Lokal dan Budaya Bangsa |
| CP Reference (BSKAP 032/2024) | Peserta didik mampu mengidentifikasi dan menganalisis akar budaya Indonesia, memahami keragaman budaya yang ada, serta menunjukkan sikap menghargai dan melestarikan budaya Indonesia sebagai identitas nasional. (Merujuk pada elemen Pemahaman Konsep-Konsep Esensial IPS dan Keterampilan Proses IPS dalam CP BSKAP 032/2024) |
| Tujuan Pembelajaran (TP) | Peserta didik mampu menganalisis peran strategis generasi muda dalam upaya pelestarian budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, serta merancang dan mengimplementasikan inisiatif kreatif untuk mempromosikan dan melestarikan warisan budaya lokal melalui pemanfaatan platform digital. |
| Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) |
1. Memahami konsep budaya lokal dan urgensinya di era globalisasi. 2. Mengidentifikasi tantangan dan peluang pelestarian budaya lokal di era digital. 3. Menganalisis berbagai peran yang dapat diemban oleh generasi muda dalam pelestarian budaya lokal. 4. Mengeksplorasi contoh-contoh inisiatif pelestarian budaya lokal oleh generasi muda melalui media digital. 5. Merancang proposal inisiatif pelestarian budaya lokal berbasis digital. 6. Mempresentasikan dan mendiskusikan proposal inisiatif pelestarian budaya lokal. |
| Strategi Asesmen | Asesmen ini dirancang untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menganalisis, berpikir kritis, dan berkreasi dalam konteks pelestarian budaya. Simulasi memungkinkan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam skenario yang relevan, memfasilitasi pemahaman mendalam dan pengembangan solusi praktis. |
| Alat Asesmen | Simulasi |
| Label | IPS SMP, Fase D, Kurikulum Merdeka |
- Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia: Menghargai keragaman budaya sebagai anugerah Tuhan dan menjalankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya lokal.
- Berkebinekaan Global: Memahami dan menghargai kekayaan budaya lokal Indonesia di tengah keragaman budaya dunia, serta mampu berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya.
- Gotong Royong: Bekerja sama dalam tim untuk merancang dan mengimplementasikan inisiatif pelestarian budaya, saling mendukung dan berbagi ide.
- Mandiri: Proaktif dalam mencari informasi, mengembangkan ide kreatif, dan mengambil inisiatif dalam upaya pelestarian budaya.
- Bernalar Kritis: Menganalisis tantangan dan peluang pelestarian budaya lokal di era digital, mengevaluasi berbagai peran generasi muda, dan membuat keputusan yang tepat.
- Kreatif: Menciptakan ide-ide inovatif dan solusi baru untuk mempromosikan dan melestarikan budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi digital.
- Berwawasan Lingkungan: Memahami bahwa budaya lokal seringkali terintegrasi dengan pelestarian lingkungan alam dan kearifan lokal terkait alam.
- Cinta Tanah Air: Menunjukkan rasa bangga dan memiliki terhadap budaya lokal sebagai bagian integral dari identitas bangsa Indonesia.
Pembelajaran akan menggunakan kombinasi media yang interaktif dan berbasis riset, meliputi:
- Platform Digital Interaktif: Penggunaan Learning Management System (LMS) atau platform kolaborasi online untuk berbagi materi, diskusi, dan pengumpulan tugas.
- Video Dokumenter Pendek: Menampilkan contoh-contoh nyata generasi muda yang aktif melestarikan budaya lokal melalui media digital (misalnya, kanal YouTube tentang tarian daerah, akun Instagram promosi batik, podcast tentang cerita rakyat).
- Studi Kasus: Analisis mendalam terhadap inisiatif pelestarian budaya digital yang berhasil maupun yang menghadapi tantangan.
- Infografis dan Presentasi Visual: Materi yang disajikan secara menarik untuk mempermudah pemahaman konsep-konsep esensial dan data.
- Forum Diskusi Online: Ruang bagi peserta didik untuk bertukar pikiran, bertanya, dan berkolaborasi dalam menganalisis peran generasi muda.
- Alat Perancang Proposal Digital: Template atau panduan sederhana untuk merancang proposal inisiatif pelestarian budaya.
Pendekatan ini bertujuan agar pembelajaran terasa organik, humanis, dan mendorong riset mandiri dari peserta didik.
Setiap sesi pembelajaran dirancang untuk menyentuh ketiga aspek ini:
- Mindful (Kesadaran Penuh):
- Pembukaan: Latihan singkat meditasi atau refleksi tentang pentingnya akar budaya dan identitas diri.
- Proses: Diskusi terarah yang mendorong pemikiran kritis dan observasi mendalam terhadap isu-isu pelestarian budaya.
- Penutup: Jurnal refleksi mingguan tentang pembelajaran dan perasaan yang muncul.
- Joyful (Menyenangkan):
- Pembukaan: Permainan interaktif singkat terkait budaya daerah atau kuis tebak budaya.
- Proses: Penggunaan video inspiratif, studi kasus menarik, dan aktivitas kelompok yang dinamis.
- Penutup: Apresiasi terhadap ide-ide kreatif peserta didik dan perayaan keberhasilan kecil dalam proses pembelajaran.
- Meaningful (Bermakna):
- Pembukaan: Menghubungkan topik pembelajaran dengan pengalaman pribadi peserta didik atau isu-isu terkini yang relevan.
- Proses: Fokus pada analisis peran strategis dan perancangan solusi nyata yang dapat diimplementasikan. Peserta didik diajak melihat bagaimana kontribusi mereka bisa berdampak.
- Penutup: Diskusi tentang bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan masyarakat, serta potensi kontribusi jangka panjang.
Strategi: Simulasi.
Deskripsi: Peserta didik akan dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan sebuah skenario tantangan pelestarian budaya lokal tertentu di era digital (misalnya, ancaman kepunahan bahasa daerah di media sosial, minimnya promosi seni pertunjukan tradisional di kalangan milenial, atau hilangnya nilai-nilai kearifan lokal dalam konten digital). Kelompok tersebut ditugaskan untuk berperan sebagai tim "Inisiator Budaya Digital" yang harus:
- Menganalisis akar permasalahan budaya dalam skenario tersebut.
- Mengidentifikasi tantangan dan peluang spesifik yang dihadapi.
- Merumuskan strategi dan konsep inisiatif pelestarian budaya berbasis digital yang inovatif dan relevan.
- Membuat rancangan proposal singkat inisiatif tersebut (termasuk target audiens, platform yang digunakan, konten kreatif, dan indikator keberhasilan).
- Mempresentasikan proposal mereka di hadapan "dewan juri" (guru dan perwakilan siswa lain) yang akan memberikan masukan kritis.
Rubrik Penilaian (Fokus pada Analisis, Keterampilan Proses, dan Kreativitas):
- Kedalaman analisis akar permasalahan budaya.
- Relevansi dan kreativitas inisiatif yang diusulkan.
- Kelayakan implementasi strategi digital.
- Kemampuan presentasi dan argumentasi.
- Kolaborasi dalam tim.
-
Seorang influencer muda yang sangat populer di media sosial mulai mengunggah konten yang mempromosikan kebudayaan daerah asalnya secara kreatif. Namun, sebagian besar pengikutnya justru lebih tertarik pada gaya hidup mewah yang ia tampilkan daripada konten budayanya. Menurut Anda, bagaimana strategi paling efektif yang dapat diterapkan influencer tersebut untuk menggeser fokus pengikutnya agar lebih menghargai konten budaya, tanpa kehilangan audiensnya?
Indikator HOTS: Analisis sebab-akibat, sintesis ide kreatif, pemecahan masalah strategis.-
A. Mengurangi frekuensi unggahan konten budaya dan fokus pada konten hiburan yang disukai pengikutnya.
Analisis: Opsi ini menunjukkan pemahaman yang dangkal terhadap pelestarian budaya. Alih-alih menggeser fokus, opsi ini justru mengorbankan tujuan utama pelestarian budaya demi popularitas semata. solusi yang tidak efektif dan kontraproduktif terhadap TP pembelajaran.
-
B. Mengintegrasikan elemen budaya ke dalam konten hiburan secara cerdas, misalnya melalui tantangan berbusana adat modern, kuis trivia budaya diselipkan dalam vlog, atau kolaborasi dengan seniman lokal untuk konten musik/visual yang menarik.
Analisis: Opsi ini sangat kuat karena menawarkan solusi sintesis yang menggabungkan dua elemen (hiburan dan budaya) secara cerdas. Ini menunjukkan pemahaman strategis tentang bagaimana menjangkau audiens milenial di era digital, yaitu dengan menyajikan budaya dalam format yang familiar dan menarik bagi mereka. Ini sejalan dengan TP untuk merancang inisiatif kreatif.
-
C. Membuat konten budaya secara terpisah di akun media sosial lain dengan fokus yang lebih spesifik pada audiens yang menyukai budaya.
Analisis: Opsi ini bisa menjadi salah satu strategi, namun kurang efektif untuk "menggeser fokus" audiens utama. Ini lebih kepada menciptakan audiens baru daripada mengubah persepsi audiens yang sudah ada. Ini menunjukkan pemahaman yang moderat namun belum optimal dalam memecahkan masalah inti dari skenario.
-
D. Mengadakan sesi Q&A (Tanya Jawab) rutin tentang budaya lokal, berharap audiens akan tertarik secara alami.
Analisis: Opsi ini bersifat pasif dan kurang proaktif. Sesi Q&A bisa efektif jika audiens sudah memiliki minat awal. Namun, dalam skenario ini, audiens lebih tertarik pada gaya hidup mewah. Tanpa penyajian yang menarik dan terintegrasi, sesi Q&A kemungkinan besar tidak akan berhasil menggeser fokus audiens yang ada.
-
-
Sebuah desa memiliki kekayaan seni ukir kayu tradisional yang hampir punah karena minimnya regenerasi pengrajin dan kurangnya minat generasi muda untuk mempelajarinya. Sebagai seorang siswa yang peduli, Anda dihadapkan pada pilihan untuk merancang sebuah inisiatif pelestarian digital. Manakah dari pendekatan berikut yang paling mungkin berhasil dalam jangka panjang untuk membangkitkan minat generasi muda terhadap seni ukir kayu?
Indikator HOTS: Evaluasi strategi jangka panjang,
Kolom Komentar
Komentar
Posting Komentar